Rabu, 17 November 2021

MUHAMMADIYAH DAN RIFA'IYAH


Muhammadiyah dan Rifa'iyah


Sudah seabad lebih Muhammadiyah eksis di Nusantara, tepatnya hari ini milad yang ke 109 tahun. Sebagai ormas Islam yang besar, Muhammadiyah tak sombong akan kebesarannya. Ia selalu membantu ormas-ormas lain, Rifa'iyah misalnya.


Dalam catatan sejarah tahun 1968, sebanyak 29 ormas Islam di Pekalongan menyelenggarakan acara di pendopo kabupaten Pekalongan untuk ishlah. Akan tetapi kenyataan pada waktu itu, justru membahas rencana pembekuan terhadap ormas Rifa'iyah. Hanya Muhammadiyah lah satu satunya ormas yang berani mendukung Rifa'iyah (diambil dari catatan KH. Ahmad Syadlirin).


Banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang berperan dalam membela Rifa'iyah hingga pengangkatan KH. Ahmad Rifa'i sebagai pahlawan Nasional, diantaranya adalah Prof. Dawam Rahardjo, Prof. Kuntowijoyo, Dr. Adabi Darban, Dr. Imam munajat dll, Bahkan mereka menulis berbagai buku yang menjelaskan tentang KH. Ahmad Rifa'i.


Hubungan baik antar Muhammadiyah dan Rifa'iyah sudah terjalin sejak lama. Pada tahun 1968 Rifa’iyah mengadakan Muktamar ke II di Pekalongan. Kokam dan Tapak Suci bertugas menjaga keamanan. Demikian juga pada tahun 1968 ketika Rifa’iyah menyelenggarakan Pelantikan Pengurus Rifa’iyah Kabupaten Pekalongan di Gedung Pekalongan.

Ketika Muhammadiyah mengadakan Muktamar dan Bazar di Alun-Alun Kraton Yogyakarta tahun 1990, Rifa’iyah tampil di Stan Muhammadiyah. 


Dalam sanad keilmuan, ada titik temu antara KH. Ahmad Dahlan dan KH. Ahmad Rifa'i. KH. Ahmad Dahlan pernah menimba ilmu kepada KH. Sholeh darat Semarang. KH. Sholeh darat pernah nyantri kepada KH. Ahmad Tubo Purwosari Kendal selama 4 bulan dengan mendalami beberapa kitab karya KH. Ahmad Rifa'i yang merupakan guru dari KH. Ahmad Tubo.


Selamat milad Muhammadiyah, semoga senantiasa menebarkan kebaikan.

Pekalongan, 18 November 2021.

Muhammad Nawa Syarif


 

Selasa, 09 November 2021

PAHLAWANKU INSPIRASIKU

 



PAHLAWANKU INSPIRASIKU


KH. Ahmad Rifa'i, satu dari deretan pahlawan Nasional yang saya anggap cocok dijadikan inspirasi dalam segala hal. Mengarungi samudra keilmuan sejak umur tujuh tahun hingga usia yang pantas memiliki cucu. Bukan hanya ulama' Nusantara Ia belajar, petualangannya hingga tanah Hijaz dan negeri Piramida.


Namun saya sadar, belum bisa meneladani seperti halnya Ia mengarungi keilmuan. Rasanya malas ketika disuruh belajar dan mengaji. Semangat memegang HP mengalahkan rasa semangat membuka mahakarya ulama'. Semangat nongkrong unfaidah mengalahkan nongkrong di majlis Ilmi.


KH. Ahmad Rifa'i sebagai inspirasi, sejak usia remaja hingga diakhir hayatnya tak lepas dengan menebar kebaikan, ruh ad-da'wah ilallah menyatu dalam sanubarinya. Walau berbagai rintangan menghalangi dicekal dan dipenjarakan beberapa kali tak mengurangi rasa semangat dalam amar makruf dan nahi mungkar.


Namun saya sadar, belum bisa meneladani seperti halnya Ia semangat dalam berdakwah amar ma'ruf nahi mungkar. Sifat toma' masih mengharap berapa honor yang diterima, melekat dalam sanubari, keikhlasan dalam dakwah perlu dipertanyakan karena masih ada embel-embel timbal balik. 


KH. Ahmad Rifa'i sebagai inspirasi, adalah satu satunya ulama' Nusantara yang produktif menulis kitab berbentuk nadzam bertuliskan Arab Pegon dengan sekala banyak dan belum ada yang menandingi hingga detik ini, begitu kata Profesor kuntowijoyo. Ushuluddin, Fiqih, Tasawuf, Tajwid, Falak, Warits hingga cara talqin mayit Ia tulis. Tujuannya tak lain agar seseorang dalam beribadah dan melakukan aktifitas apapun didasari dengan keilmuan yang sesuai haluan ahlussunah wal Jama'ah.


Namun saya sadar, jangankan menyempatkan waktu membaca karya-karyanya, memiliki sepuluh judul kitab aja hingga sekarang belum terpenuhi. Lebih baik membeli rokok ataupun HP keluaran terbaru menjadi cita-cita dari pada memiliki karya KH. Ahmad Rifa'i.


Pahlawanku inspirasiku.

Pekalongan, 10 November 2021.

Muhammad Nawa Syarif


#pahlawannasional

#khahmadrifai

#rifaiyah

#amri

#angkatanmudarifaiyahkotapekalongan

#wartaamrikotapekalongan

#pdamrikotapekalongan

#10november

Jumat, 08 Oktober 2021

TEMBANG

 KAHIDAH 14


*TEMBANG*


تَنْبِيْهٌ تمْبَعْ جَوِ للَا كُونْ رَغَبَنْ    كِنَوَىْ عَعْكَةْ اِعْ عِلْمُ شَرَعْ كَلُوْهُوْرَنْ

عُرِيفْ اُرِيفْ اِعْ اَكَمَانَىْ نَبِىْ اُتُوْسَنْ    اِيْكُوْ دَادِىْ حَاصِلْ فَعَوَرُهِىْ كَجُوْكُوْفَانْ 

يَتَا مَنْفَعَةْ للَاكُونْ جَاوِىْ تمْبَاعْ     نُولُوْعِيْ اِعْ طَاعَةْ مَارِعْ الله كَوِيْلَاعْ


_”Perlu diketahui, bahwa tembang Jawa dianggap perlu untuk mengangkat martabat ilmu syariat”_


_”Melestarikan agama Nabi dan Rasul, sehingga cukup membawa hasil untuk memberi penerangan”_


_”Nyata bermanfaat tembang Jawa, termasuk sebagai instrumen penolong untuk taat kepada Allah”_ (Tanbih KH. Ahmad Rifa’i)


Tembang dalam Wikepedia diartikan sebagai kumpulan sajak/lirik yang berirama dan bernada. Kitab KH. Ahmad Rifa’I sebagian besar merupakan syair yang sangat indah apabila didendangkan layaknya tembang. Masyarakat Rifa’iyah sangat akrab dengan tradisi tembang, lagu. Dalam setiap jelang shalat berjamaah, mengawali majlis ta’lim di mushola dan masjid, biasa kita dengar lantunan syiiran, pujian, sebagai _pepiling_ bagi pendengarnya.  Lirik tembang bisa berupa nasihat, _pepiling_ memuji kepada Allah dan Rasulullah, juga bisa bermuatan ilmu.


Kata-kata nasihat baik _(mauidhah hasanah)_ yang disampaikan dengan cara yang buruk kecenderungannya akan ditolak, karena naluri manusia selalu menolak untuk digurui dan dinasehati secara langsung. Digurui dan dinasehati terasa berat, karena secara rasa orang yang dinasehati berposisi layaknya _kawula_ dihadapan penasihat  _gusti_. Maka tembang, lagu merupakan salah satu metode menasehati orang dengan cara _soft._ 


Tembang meresap ke dalam hati karena tidak menggurui. Ia terngiang dalam ingatan karena aura keindahannya. Syair, irama dan nada merupakan keindahan bunyi dan makna yang sering tanpa disadari meresap dalam lubuk hati manusia. Entah menggungah semangat atau justru membuat mata berlinang, setelah mendengarnya. 


Banyak orang tergugah hatinya selepas mendengar lagu. Banyak pula mereka bertaubat karena resapan alunan tembang yang menyadarkan. Tembang sebagai metode _tabligh_ tak lekan oleh panas zaman. Sejak zaman arab barbar hingga era digital _sumebar_ tembang merupakan metode penyampai yang dirasa paling ampuh meraih hati. Bahkan akhir-akhir ini tembang dinyatakan sebagai metode hafalan tanpa menghafal. Anda cukup sering melagukan bait nadzam _aqidatul awwam_ tanpa terasa anda tiba-tiba menghafal syair itu. Yang kita lakukan hanyalah nembang, tapi hadiahnya adalah hafal lirik, syiir, dan sajak.

 

Dulu Walisongo menitipkan pesan agama melalui tembang anak-anak. Misalnya intisari hadis Nabi tentang setiap manusia merupakan pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, yang pasti manusia akan mempertanggungjawabkan mengenai kepemimpinannya itu. Digubahlah tembang _”Gundul-gundul Pacul Gembelengan”_


_Gundul gundul pacul cul gelelengan_

_Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan_

_Wakul ngglimpang segane dadi sak rattan_

_Wakul ngglimpang segane dadi sak rattan_


Dalam tembang itu digambarkan bagaimana setiap manusia mempunyai “Wakul Tanggungjawab”. Tanggungjawab itu harus benar-benar ditunaikan dan dijaga. Kalau teledor tentu amanah wakul itu akan _glimpang_  sehingga tanggungjawab tidak hasil maksud, tapi malah tumpah ruah yang menikmati justru yang tidak berhak. Dalam lirik tembang itu disebut sebagai _”Wakul glimpang segane dadi sak latar.


Bagi saya tembang merupakan music. Karena music itu komposisi bunyi, irama, dan nada yang diaransir. Bahkan alam ini mustahil kalau tak musical.


Pekalongan, 8 September 2021

AHSA

Sabtu, 25 September 2021

DIKOTOMI ILMU = DISKRIMINASI ILMU

 *KAHIDAH 13*


*DIKOTOMI ILMU = DISKRIMINASI ILMU*


Dalam satu perbincangan seorang siswa santri bertanya kepada gurunya, perihal ilmu, 

_“Pak, apakah ilmu matematika tidak sampai ke akherat.”_ Guru itu spontan menjawab. 


_“saya tidak bisa memastikan hal itu, tapi faktanya besok kita semua tidak difikih atau diushul tetapi dihisab. Dihisab itu artinya apa?”_ serempak siswa yang ikut hadir dalam perbincangan santai itu menjawab, _“dihituuung!”_


_“Ilmu untuk menghitung itu ilmu apa?”_


_“Matematikaaaa”_ diiringi senyuman dari siswa yang berkerumun.

Mungkin ingin memperjelas, atau memperluas keterangan, diantara siswa menyusuli pertanyaan lagi.


_“Katanya matematika bukan ilmu agama Pak?”_


_“Lha terus ilmu apa?”_


_“Ilmu Umum!”_


_“Aneh”_


_“Kok aneh Pak?”_ beberapa wajah siswa terlihat mulai penasaran dengan kata aneh.


_“Iya. Karena yang saya tahu antonimnya umum itu khusus, bukan agama. Jadi kalau mau mendikotomikan ilmu yang benar adalah ilmu umum dan ilmu khusus.”_


_“Terus maksudnya ilmu khusus itu apa Pak?”_


_“Ilmu khusus itu seperti keRifaiyahan, keMuhammadiyahan, keNUan, sedangkan ilmu umum itu seperti matematika.”_


_“Maksudnya?”_


_“Kalau matematika, siapapun orangnya yang minat bisa mempelajari. Entah orang-orang di Jepang, Amerika, Indonesia, Jerman. Entah Muslim, Yahudi, Hindu, Buddha semua mempelajari matematika.”_


_“Sedangkan, KeRifa’iyahan, siapa yang mempelajari?”_


_“Khusus siswa keturunan warga Rifa’iyah.”_


_“Paham ya…”_


Serempak siswa menjawab, _“Pahaaaam.”_


_“Jadi jangan ikut-ikutan mendikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Sebatas yang saya tahu secara logika, hal itu salah. Dan efeknya kalian jadi malas mempelajari ilmu yang selama ini dikatakan sebagai ilmu umum, karena merasa tidak berguna di akherat.”_


_“Padahal amat jelas Allah menegaskan pentingnya ilmu matematika melalui ayat”_


اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ


_“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”_


*Kehidupan mustahil terjadi, apabila tanpa perhitungan.*


_“Kalau ilmu umum dikotominya dengan ilmu khusus, lantas ilmu agama didikotomikan dengan ilmu apa Pak?”_


_“Yang hampir seakan-akan benar menurut anggapanku. Ilmu agama pasangannya ilmu budaya. Karena agama kreasi Tuhan, sedangkan budaya kreasi manusia. Tetapi sesungguhnya, hakekatnya agama tidak bisa didikotomikan”_


_“lho kenapa Pak?”_


_“Iya. Agama itu kan seperti air. Ia ada di otak, perut dan seluruh jasmani kita, ia juga ada di tanah, di gunung, di laut, sungai, sumur, awan, dan dimana-mana. Sebagaimana agama, agama ada di olah raga, agama ada di music, kimia, fisika, biologi, budaya, masyarakat, dan dimana saja ada agama. Agama itu tidak hanya fiqih.”_


_“Kok bisa Pak?”_


_“Lha iya. Misalnya agama mengajarkan keadilan, dalam al-Qur’an difirmankan:”_


اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ

_“Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa”_


_“Saya Tanya, dalam olah raga mengajarkan keadilan tidak?”_ siswa ragu menjawab.


_“Oke. Adil dalam istilah olah raga disebut sebagai apa?”_


_“Sportiiif”_


_“Kalau dalam musik?”_


_“harmoni”_


_“Jadi bagaimana mungkin dalam musik tidak ada agama?”_

_“Terus kalau dalam olah raga Pak?”_


_“Baik. Saya Tanya, selama ini media yang bisa membakar semangat cinta tanah air, media apa?”_ siswa gak menjawab.


_“Bukankah semangat nasionalisme itu bergelora ketika kesebelasan Indonesia berlaga dengan kesebelasan Negara lawan?”_


_“Iya Pak. hubbul wathon minal iman”_ disambut koor Ya Lal Wathon. 

Selepas bersama menyanyikan _Ya Lal Wathon,_ ternyata pembicaraan mengenai dikotomi belum usai. Mereka masih mengejar dengan rentetan pertanyaan.


_“Pak, dasar ayat al-Qur’annya mempelajari ilmu biologi apa Pak?”_


اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ 


_“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?”_


_“Apakah kalian bisa mempelajari bagaimana penciptaan unta melalui ilmu Ushul, Fiqih dan Tasawuf? Bukankah itu semua dipelajari melalui ilmu biologi. Kalau orang menganggap remeh ilmu biologi berarti ia acuh terhadap firman tadi.”_


_“Kalau dasarnya al-Qur’annya anjuran mempelajari ilmu fisika Pak?”_


_“Surat al-Ghasyiyah ayat berikutnya sebagai dasar anjuran mempelajari fisika, astronomi, dll”_

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ 

_“Dan langit, bagaimana ditinggikan?”_


_“Berikutnya tentang pentingnya geografi.”_

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ 

_“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”_


وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ 

_“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”_


_“Pak, tapi kan, Mbah Rifa’I hanya menganjurkan tiga ilmu Ushul, Fiqih, Tasawuf Pak.”_


_“Siapa bilang. Wong dalam kitab Targhib jilid satu disebutkan”_


_ora nana derajat ilmu luwih luhur, tinimbang ilmu saking ilmu ma’rifat milahur_

_(tidak ada derajat ilmu lebih tinggi, dibandingkan dengan ilmu ma’rifat)_


“maksudnya ma’rifat kepada apa Pak?”


_“Mbah Rifa’i dalam kitab _Targhib_ mengatakakan bahwa manusia terlena karena tidak memperhatikan penciptaan dirinya. Kemudian Beliau mengutip ayat al-Qur’an.”_


_“Kita kutipkan persis kata-kata beliau”_


أَكَيهْ مَنُوْسَا فَدَا تِنمُوْ لَيْنَا اَوْرَا مَعْرِفَةْ اِعْكَعْ كَوَىْ بَدَنْ كَعْ اَنَا

اِيْكِيْ لَهْ قُرْاَنْ كَلَامُ اللهْ كَورُهَنَا وَفِىْ اَنْفُسِكُمْ اَفَلَا تُبْصِرُونَ

لَنْ اِعْدَلمْ اَوَاكِيْرَ كاَبَيْه كَدَدَيْهَنَىْ اَنَتَا اَوْرَا نِعَالِىْ كلَا كُوْهَانَىْ كَبَيهْ تِنَمُوْنَىْ


_“Kemudian pertanyaannya untuk mengetahui diri manusia, bukankah orang harus mempelajari biologi untuk mengetahui jasmaninya, psikologi mengetahui jiwanya, dan tasawuf untuk mengetahui perkembangan ruhaninya.”_


_“Dari alur logika pernyataan di kitab _Targhib_ yang bersandar pada Firman Tuhan, kita jadi menyaksikan bahwa Mbah Rifa’I mengajurkan mempelajari ilmu biologi, psikologi dan tasawuf. Bahkan dinyatakan ilmu ini sebagai ilmu yang berderajat tinggi.”_


_“berarti selama ini anggapan umum kita salah Pak?”_


_“monggo… salah atau tidak yang jelas ilmu itu dinamis. Tidak mandeg sebagai dogma yang diyakini kebenarannya tapi ternyata menyesatkan.”_


_“Yang jelas Mbah RIfa’I sering mengutip ayat berikut ini.”_ 


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا


_”Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”_


*ojo anut umbyung ing wong sasar bingung*


Pekalongan, 23 September 2021

AHSA

Sabtu, 07 Agustus 2021

SRAWUNG BEBRAYAN PD AMRI KOTA PEKALONGAN

 



Event berbagi "Srawung Bebrayan" Banyak mengandung hal-hal yang positif, salah satunya menumbuhkan rasa empatik berbagi yang sangat tinggi, baik dalam keadaan duka maupun suka. Karna di sini nilai kesederhanaan muncul. Yang kaya tidak akan merasa kaya, dan yang miskin pun tidak akan merasa miskin.
Kebiasaan suku suku di Indonesia adalah kebersamaan, berburu bahan makanan baik hewani maupun nabati dikumpulkan bersama dibakar bersama dan dimakan bersama pola ini yg membuat mereka tidak keracunan produk luar. Kamis 6 Agustus 2021, sebagian dari rekan-rekan AMRI melakukan aksi peduli di Poncol baru kota Pekalongan dan disambung dengan hangat oleh warga sekitar. Konsep yang ditawarkan adalah mempersilahkan mereka menyantap hidangan tanpa ada rasa malu-malu, bahkan dipersilahkan ikut serta memasak tanpa rasa sungkan. Tujuannya tak lain bisa membahagiakan mereka yang kesusahan, Terbitlah rasa guyup rukun saling gotong royong satu sama lain.
Meminjam istilah peribahasa "dari pada mengutuk kegelapan, mari nyalakan lilin sebagai penerang". Harapannya masyarakat mulai sadar dan aksi yang telah disulut oleh AMRI bisa berjalan dengan Istiqomah dan kebahagiaan menyertai kita semua.








Link Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=HEZJOmr9UFI&t=2s



IBADAH KUALITAS BUKAN HANYA KUANTITAS

IBADAH KUALITAS BUKAN HANYA KUANTITAS

oleh : Agus Syafa'at (PD AMRI Kota Pekalongan)

Ibadah berasal dari kata Abida-Ya'budu yang berarti mengabdi kepada Tuhan, dan ibadah secara epistomonologi adalah wujud pengabdian seorang hamba di dunia kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka dari itu titik berat ibadah terletak pada kepada siapa kita mengabdi dan tentunya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Allah SWT didalam Ayat Alqur'an juga menegaskan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

    Pada Tahun 1266H atau 1850M KH Ahmad Rifa'i sudah mengistilahkan lewat syairnya bahwa Sebaiknya pengabdian manusia kepada Tuhannya lebih mengedepankan kualitas dalam beribadah daripada kuantitas. 

 

Wong dagangan batine tikel-tikelan 
iku luwih banget akeh kahuntungan

Kaduwe wongkang luwih arta pawitan
mengkono uga wong ibadah kabeneran

luwih akeh untung ganjarane akhirat
kaduwe alim adil akeh ilmu munfaat

Iku sabab luwih akeh pawitan dihajat
akeh tikel ganjarane alim adil tho'at

Wong dagangan godong gawane berengkut
banget kedike batine kang dijuput

Luwih akeh wong tuku kemprubut
banget larise akeh wong asih lulut

Pira-pira anane dagangan akeh hina
kedig pawitane laris tinukunana

Batine luwe kedig kang disejakna
iku wicara bener arep kaweruhan

Ana juragan dagangane cilik akeh regan
yaiku emas,intan jumerut dagangan

Akeh batine sabab akeh ajine pawitan
ikulah sinejahakehe kahuntungan

Arep paham ing ngilmu syari'at dinadhar
sakuwasane gawe benere ikhtiyar

Ngista'na datenge syari'at digiyar
supaya dagangan tho'at akeh ginajar

Ikulah wang dagangan pawitan agung
dhohire kedik dagangane akeh untung

Tan katingal wang akeh rame rubung-rubung
ikulah ngilmu rega arep kinungsung

Tinemu satengah juragan kabingungan
ngalim fasik rinubung ngamal dagangan

Ati peteng tan weruh tunane pawitan
iku wang dagangan ngamal akhirat getunan

Kamis, 05 Agustus 2021

PEDULI KEBAHAGIAAN

PEDULI KEBAHAGIAAN

Oleh : Muhammad Nawa Syarif 

Sedari dulu, para ulama' didalam kegiatan keseharian tak pernah mendikotomikan antara ibadah individual dan sosial. Ketika malam tiba mereka bersujud, mentadabburi kalamNya, membasahi bibir dengan senantiasa menyebut namaNya.

Tatakala matahari memancar, para ulama' berangkat ke sawah, menanam padi, buah-buahan, serta memberi kegembiraan kepada mereka yang kesusahan. Bagi mereka Menegakkan aksi kemanusiaan merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan, dan berlipat-lipat pahala didapatkan.

Melihat keluhan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 di Pekalongan khususnya, AMRI (Angkatan Muda Rifa'iyah) sebagai penerus perjuangan KH. Ahmad Rifa'i, wajib hukumnya ikut serta peduli melaksanakan aksi saling tolong menolong terhadap sesama.

Bagaimana tidak? Sedangkan KH. Ahmad Rifa'i menjelaskan dalam fatwanya.

Wajib wong kang nduwe Rizqi leluwihan

Iku Tulung banget ing wong leluwehan

(Wajib bagi mereka yang memiliki Rizqi lebih, menolong kepada mereka yang kelaparan).

Kamis 5 Agustus 2021, sebagian dari rekan-rekan AMRI melakukan aksi peduli di Poncol baru kota Pekalongan dan disambung dengan hangat oleh warga sekitar. Konsep yang ditawarkan adalah mempersilahkan mereka menyantap hidangan tanpa ada rasa malu-malu, bahkan dipersilahkan ikut serta memasak tanpa rasa sungkan. Tujuannya tak lain bisa membahagiakan mereka yang kesusahan, Terbitlah rasa guyup rukun saling gotong royong satu sama lain.

Meminjam istilah peribahasa "dari pada mengutuk kegelapan, mari nyalakan lilin sebagai penerang". Harapannya masyarakat mulai sadar dan aksi yang telah disulut oleh AMRI bisa berjalan dengan Istiqomah dan kebahagiaan menyertai kita semua.


Pekalongan, 05 Agustus 2021.