Sabtu, 24 Desember 2022

SERBA-SERBI TANBIHUNAN EDISI DESEMBER 2022 || AULA KELURAHAN KALIBAROS || METAMORFOSHA

SERBA-SERBI TANBIHUNAN EDISI DESEMBER 2022 || AULA KELURAHAN KALIBAROS || METAMORFOSHA

Alhamdulillah acara Tanbihunan edisi desember berjalan penuh hikmat, Sabtu 17 Desember 2022 di Aula Kelurahan Kalibaros, mereview memory kenangan tanbihunan yang pertama sekitar 2 tahun yang lalu. Persiapan rekan-rekan panitia membuahkan hasil yang menggembirakan, dengan konsep sederhana tapi penuh daging, begitulah para milenial menyebutnya.


Acara dimulai dengan lantunan Sholawat Badar secara berjama’ah yang dipimpin oleh rekan Sholihul Huda salah satu vokalis Badur Bopas. Dilanjutkan acara diskusi terbuka yang dimoderatori oleh rekan Agus Muhamad Shodiq, sebelum acara diskusi dimulai dibacakan terlebih dahulu prolog oleh rekan Shofarul Wildan Ahmad sebagai muqoddimah dengan tema METAMORFOSHA.
Acara tersebut dihadiri dari berbagai komunitas dan kelompok masyarakat, terlihat di posisi depan sebagai nara sumber ada Gus Asep (Kepala Sekolah MA Rifa’iyah Kedungwuni), Pak Arif Dirhamsyah (Direktur RKB Kota Pekalongan & Sejarahwan Kota Pekalongan) dan juga ada Kang Eko Suprihan (Pengurus suluk Pesisiran & Dosen Unikal). Hadir pula pada malam hari itu Habib Ali putra Habib Ahmad Sapugarut dari Komunitas Burdah Indonesia, Pak Din dari Balinggana Kabupaten Batang, dan juga perwakilan dari rekan-rekan AMRI Kota Pekalongan. Dari Komunitas Masyarakat Maiyah Suluk Pesisiran, Komunitas Paguyuban Pasar Senggol Kota Pekalongan dan juga Ikatan Keluarga pondok Modern Darussalam Gontor Cabang pekalongan juga ikut menghadiri pada acara tersebut.
Acara diskusi berjalan dengan sangat hangat dan akrab, berbagai hazanah keilmuan saling mengisi baik itu hukum, budaya, agama, sejarah, sosial, kenegaraan, dll. Memang begitulah Tanbihunan berbagai komunitas, kelompok, dan berbagai latar belakang yang berbeda berkumpul akrab, saling mengisi dan saling mengingatkan. Diatas hanya Allah dibawah hanya tanah, Kaki menapak dibumi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di Arsy
Pada kesempatan tersebut Gus Asep mengungkapkan bahwa Tanbihunan Menjawab Tantangan Zaman, diskusi berjalan sekitar 3 jam dan acara Tanbihunan pun ditutup dengan bacaan surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas secara berjama’ah dan dilanjutkan dengan Mahallul Qiyam yang dipimpin Oleh rekan Sholihul Huda dan Habil Ali dari Komunitas Burdah Indonesia.
Kami dari Omah Tanbihun Mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada seluruh rekan-rekan yang sudah turut serta mensukseskan acara Tanbihunan Edisi Desember ini, baik itu secara pendanaan, tenaga, maupun fikiran. Semoga Allah SWT membalas kebaikan panjenengan semua, dan nantikan Tanbihunan yang akan datang Edisi Januari. Tidak ketinggalan acara semacam ini juga kami siarkan secara live di media sosial kami, baik itu facebook, Instagram, Youtube, dll.













RESUME TANBIHUNAN EDISI DESEMBER || METAMORFOSHE

 *RESUME TANBIHUNAN EDISI DESEMBER || METAMORFOSHE*

"Forum forum seperti ini sebenarnya sudah lama ada, karena memang tawaran Al Qur'an sendiri kan ada istilah wajadilhum billati hiya Ahsan yang artinya berdiskusilah dengan mereka dengan yang lebih baik". Gus Asep mengawali diskusi Omah Tanbihun Edisi Desember 2022. Pada edisi kali ini Omah Tanbihun mengangkat tema "METAMORFOSA". Kalimat yang sebenarnya sudah sering kita dengar dari kecil bahkan telah diajarkan sejak berada di bangku sekolah sekolah dasar. Metamorfosa yang sering kita dengar sejak kecil merupakan rangkaian perjalanan kehidupan kupu - kupu yang berawal dari seekor ulat yang menjijikkan kemudian tumbuh menjadi kepompong dan berkembang menjadi kupu - kupu yang indah dan mempesona.


Metamorfosa yang garis besarnya adalah perubahan dari masa ke masa ternyata dialami juga oleh manusia. Secara sosiologi, dulu kita belajar dari pesantren ke pesantren, dari madrasah ke madrasah itu konsepnya menimba ilmu. Madrasah ibarat kata itu sumur dan untuk mendapatkan air yang ada di dalamnya kita harus mendatanginya. Berbeda dengan era sekarang, keterbukaan arus informasi ini membawa dampak perubahan sosial kemasyarakatan yang ada.
Perubahan itulah yang kemudian cepat atau lambatnya para sumur mengalami penurunan otoritas. Dahulu otoritas pengetahuan agama dipegang oleh Kiai, ulama, pendeta, biksu, di era sekarang semua bisa memberikan kontribusi pada pengayaan ilmu pengetahuan keagamaan. Dokter dahulu menjadi pemegang otoritas kesehatan. Dokter dapat menentukan informasi obat tanpa kuritas, sekarang semua pasien bisa secara mandiri menulusuri obat yang diberikan oleh dokter melalui Internet sehingga bisa turut mengontrol dokter sebagai pemegang otoritas kesehatan.
Hal demikian artinya bahwa perubahan itu merupakan keniscayaan, manusia diberikan kreativitas dan itu sudah menjadi ketetapan Tuhan. Maka keberhasilan sebuah metamorfosa kehidupan manusia dipengaruhi oleh usaha dan do'a. Kewajiban kita sebagai manusia adalah berusaha sebaik mungkin dan usaha juga harus diiringi dengan doa serta bertwakal atas segala keputusanNya. Setidaknya ada sebuah kesempatan yang tidak hilang ketika kita sudah berusaha untuk mendapatkannya.

WHAT ABOUT METAMORFOSHA

 [Mukadimah Forum Diskusi Tanbihunan Omah Tanbihun Edisi Desember 2022]

Setiap fenomena yang ada di alam ini merupakan kehendak ilahi. Seperti halnya fenomena keindahan yang terjadi pada kupu-kupu atau yang biasa kita sebut dengan proses metamoforsha. Pernakah kita berfikir bagaimana proses kehidupan yang dilaluinya? Ternyata, kehidupan yang dialami oleh makhluk kecil yang mempesona ini sangatlah rumit dan susah. Kupu kupu harus melewati proses yang amat sangat panjang sehingga menjadi makhluk kecil yang indah dan mempesona.


Namun ternyata, proses itu juga terjadi pada manusia. Metamorfosha manusia merupakan proses perjalanan hidup manusia untuk mengenal diri sendiri yang kemudian memunculkan sebuah perubahan dalam diri manusia ke arah yang lebih baik. Titik awal untuk menuju sebuah perubahan pada perjalanan hidup manusia yaitu diawali dengan pertanyaan siapakah aku? Pertanyaan singkat itulah merupakan rangkuman dari seluruh tugas kita pada perjalanan hidup di dunia. Tentu, kalimat “mengenal diri sendiri” terdengar sederhana namun ternyata tidak semua dari kita dapat berhasil melakukannya.
Forum tanbihunan edisi Desember ini mengajak kita untuk dapat merefleksikan diri terhadap usaha kita mengenal diri. Sejauh mana kita mengenal diri kita.

π™π˜Όπ™‰π˜½π™„π™ƒπ™π™‰π˜Όπ™‰ π™ˆπ™€π™‡π™„π™ƒπ˜Όπ™ π™‚π™€π™‡π™„π˜Όπ™ π™ˆπ˜Όπ™‰π™π™Žπ™„π˜Ό

 π™π˜Όπ™‰π˜½π™„π™ƒπ™π™‰π˜Όπ™‰ π™ˆπ™€π™‡π™„π™ƒπ˜Όπ™ π™‚π™€π™‡π™„π˜Όπ™ π™ˆπ˜Όπ™‰π™π™Žπ™„π˜Ό

Tanbihunan istilah yang diambil dari kata dasar Tanbihun (peringatan). Secara konotatif, tanbihun merujuk kepada istilah yang dipakai dalam kitab tarajumah karangan KH. Ahmad RIfa’I. Tanbihun semacam pintu untuk memasuki ruang ilmu, biasanya untuk membuka satu tema ilmu dalam kitab tarajumah ditandai dengan tulisan tanbihun, sebagaimana istilah bab, fasal, I’lam, faidah dalam kitab-kitab arab.


Dalam tradisi jawa, tanbihun sejajar dengan istilah _pepiling_. Dengan adanya pepiling harapannya manusia selalu mengingat tetang hakekat dirinya, Tuhannya, dan hulu hilir hidupnya.
Tanbihun ini menjadi istilah yang akrab dibenak para anak murid KH. Ahmad Rifa’I, karena ia mengingatkan kita pada masa kanak-kanak, ketika murid ditempa oleh keluarga dan pendidikannya untuk menghafal syarat-syaratan yang berkaitan dengan iman, islam, ihsan, tentu supaya sah iman dan ibadahnya kepada Allah Swt, agar juga menjaga kebaikan sesrawungan dengan manusia dan makhluk lain.
Syarat rukun keimanan, keislaman, peribadatan itu ditanamkan agar anak tumbuh menjadi manusia yang sadar bahwa dirinya bertugas di bumi untuk menjalani pengabdian kepada Allah (Abdullah), mengkhilafahi bumi (khalifatullah) dengan berpedoman kepada al-Qur’an, Hadits, Ijma, dan Qiyas.
Tanbihunan sepanjang yang saya pahami merupakan geliat generasi yang tidak saja menikmati tradisinya, tetapi juga resah pada adaptasi ajaran dan tradisinya dengan perubahan zaman. Fenomena ini juga merupakan konsekwensi zaman, dimana hujan deras informasi terjadi dimanapun dan kapanpun. Terbukanya arus informasi ini membawa banyak perubahan social kemasyarakatan. Pola-pola hubungan manusia yang searah, akhir-akhir ini mengarah kepada pola diskusif, interaktif, dan kolaboratif.
Hal itu terjadi secara massif dimanapun, hingga mengakibatkan nisbinya otoritas. Misalnya dahulu era pra internet otoritas pengetahuan agama dipegang sepenuhnya oleh kiai, ulama, pendeta, biksu, di era sekarang masing-masing orang bisa memberi kontribusi pada pengayaan ilmu pengetahuan keagamaan. Dokter pada beberapa puluh tahun yang lalu sebagai pemegang otoritas kesehatan, dapat menentukan obat tanpa kuritas, pada masa sekarang Pasien bisa secara mandiri menelusuri informasi obat yang diberikan dokter melalui intrnet, sehingga bisa turut mengontrol dokter sebagai pemegang otoritas kesehatan.
Ibaratnya kalau dahulu ada sumur-sumur ilmu pengetahuan seperti pesantren, kiai, sekolahan, guru, rumah sakit dan dokternya. Sekarang telah terjadi hujan deras informasi, yang setiap orang tidak harus mengambil dari sumur-sumur tersebut, mereka cukup menadahkan wadah untuk menampungnya, sehingga para sumur lambat atau cepat mengalami penurunan otorias.
Hal demikian menjadi mafhum bagi kita, apabila tantangan zaman tersebut dijawab dengan pola hubungan diskusi, sinau bareng, saling mengisi, sebagaimana metode yang dipakai dalam tanbihunan. Pola ini sebenarnya sudah lama ditawarkan oleh Tuhan sendiri dalam menumbuhkan manusia dan peradabannya. Dalam QS. An-Nahl: 16 Allah menawarkan metode tersebut, dengan Bahasa _wajadilhum billati hiya ahsan_ (dan berdiskusilah dengan mereka dengan yang lebih baik).
Pekalongan, 14/12/22
ahsa

Kamis, 20 Oktober 2022

Catatan Pinggir Batik Rifa’iyah

 


Batik Rifa’iyah….. Karya tua asing di telinga begitulah candaan penulis. Kalimat tersebut muncul Ketika penulis mengupload Kembali tulisan tentang Batik Rifa’iyah yang berjudul *Form Art to Religious Symbols* karya Rifa’iyah Media di salah satu group Forum Bisnis Alumni Gontor. 


Kita mulai darimana ya? Ok Close Your Door eh salah.. Open Your Mind


Batik Rifa’iyah, tentunya pembaca sudah tau to apa


itu batik? Bukan rahasia lagi, bahwa satu dari sekian budaya warisan Indonesia yang sudah diakui UNESCO ialah batik. Seni membatik punya peran penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Karena itu, seni ini merupakan identitas sekaligus penguat karakter bangsa. 


Lebih dari itu, batik ternyata juga menjadi media dakwah bagi para ulama di Indonesia. Perkembangan batik yang banyak terjadi di daerah santri membuat pengaruh Islam turut mewarnai perkembangan batik. Tak mengherankan jika batik merupakan media perjuangan sekaligus menjadi media dakwah.


Batik Rifa’iyah, begitu kain itu disebut, ialah salah satu motif yang menjadi kekhasan dari komunitas Rifa’iyah. Sebutan Rifa’iyah diambil dari seorang tokoh agama bernama KH Ahmad Rifai.


Dari sini boleh dong penulis memberanikan diri dan minta izin bahwa Batik Rifa’iyah adalah seni membatik yang terlahir dari rahim santri. Sebagaimana jiwa santri yaitu kemandirian (Berdikari) bukan kekayaan atau kerakusan ekonomi, dan warga Rifa’iyah sudah mengamalkannya melalui karya Batik Rifa’iyahnya. 


Dalam masyarakat Rifa’iyah wanita yang mulia dari sisi ekonomi adalah yang membantu nafkah suami dari rumahnya sendiri. Dan sangat jarang ditemui pada masyarakat Rifa’iyah wanita yang bekerja diluar rumah (bekerja ikut orang lain). Sebagaimana tertulis didalam kitab Adabut Tolab karya KH Ahmad Rifa’i


*Wong laki rabi berayan ngupoyone*

*Ing sandang pangan berayan kangelane*

*Namung ing wong wadon dudu mestine*

*Wong lanang ngidzinaken kasab nyatane* 


Seluruh rumah tangga harus berjuang bersama dalam mencukupi kebutuhanya , namun dalam masalah bekerja, tidak sepatutnya suami memberikan izin bekerja (diluar rumah) pada istrinya.


Mungkin hal semacam ini yang menjadi latar belakang terbentuknya Batik Rifa’iyah sehingga istri bisa membantu nafkah suami tanpa harus keluar rumah dan menjadi pekerja untuk orang lain. Tanpa tersadari oleh masyarakat Rifa’iyah sendiri ternyata kebudayaan semacam ini bisa menjadi solusi yang mana akhir2 ini marak kasus perceraian di Indonesia, dan salah satu penyebabnya dikarenakan wanita bekerja di luar rumah.


Sebenarnya masih banyak yang perlu diulas seperti limbah obat batik yang mencemari sungai, Batik Rifa’iyah juga menjadi solusi. Tetapi karena saya rasa tulisan sudah terlalu panjang, maka kami sudahi cukup sampai sini dulu. 


*TETAP BERKARYA DAN JANGAN LUPA KITA SEMUA KHOLIFAH FIL ARDHI*


AMS, Pekalongan 12-10-2022



Sabtu, 02 April 2022

Coretan Gus Muda Tentang Acara Apel Kebangsaan 3 Ormas Islam (Rifa'iyah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah)



Mbah Rifa'i, sama halnya Mbah Hasyim dan Mbah Dahlan, merupakan pejuang bangsa dan agama. Bara dan api perjuangan yang pernah dihidupkan ketiga tokoh tersebut tak boleh padam. Dalam hal ini, peran pemuda sebagai tangga estafet perjuangan sangat berpengaruh bagi maju-mundurnya bangsa dan agama.

Selain untuk saling mengenal satu sama lain (li ta'aarofu), mengenang dan menelusuri jejak ketiga tokoh tersebut merupakan langkah awal untuk menjaga persatuan, kerukunan dan kedamaian di zaman yang penuh perpecahan seperti sekarang ini.
Berkarya, bersuara dan berdoa ialah metode yang diajarkan Nabi dalam berdakwah untuk menandingi kemungkaran. Dan, acara ini (Mengenang Tiga Tokoh Bangsa) merangkum dan meliputi ketiga metode dakwah atau syiar yang diajarkan Nabi.
Selamat dan sukses untuk acara Kirab dan Apel Kebangsaan 3 Ormas Islam (Rifa'iyah, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah)
Yang muda, yang berkarya!!!
Gus Yahdi Muzarie

PENGANTAR MAULID AKBAR & DO'A BERSAMA MENGENANG 3 TOKOH BANGSA

PENGANTAR MAULID AKBAR & DO'A BERSAMA MENGENANG 3 TOKOH BANGSA

Untuk memudahkan memahami varian pemikiran dan gerakan Islam, bisa kita upamakan Islam sebagaimana pohong. Pohong merupakan bahan baku untuk diolah oleh manusia menjadi kripik, tape, getuk, rondo kemul, tepung, dll. Sebagaimana juga Islam diijtihadi oleh para ulama hingga menjadi paham dan gerakan, gerakan memadat menjadi ormas yang berbeda-beda. Islam diupamakan sebagai pohong sedangkan ormas diupamakan sebagai getuk, kriping, tape, peyem, tape, dll.

Kita harus bersama dan bersatu karena bagaimanapun macam-macamnya getuk, kripik, tape, mereka tetap dari bahan yang sama dan satu. Macam-macamnya paham, gerakan, ormas dalam Islam merupakan ijtihad untuk menjadikan Islam sebagai gerakan perjuangan yang khas berdasarkan latar belakang dan karakter pelopor dan pejuangnya. Macam-macamnya gerakan akan menjadi rahmat kalau disadari mereka berbeda dari sumber yang sama.
Lahirnya Rifa’iyah sebagai gerakan keagamaan yang dipimpin oleh KH. Ahmad RIfa’I tidak bisa dilepaskan dari situasi zamannya. Hindia Belanda pada waktu itu 1830 memaksa rakyat agar menanam tanaman berdasarkan selera pemerintah colonial Belanda atau biasa dikenal sebagai Politik Tanam Paksa (cultuurstelsel). Pemerintah kolonial Belanda setelah mengalami kebangkrutan karena perang Jawa, melawan Pangeran Diponegoro dan laskarnya. Akhirnya pada kebijakan politiknya memaksa rakyat Jawa untuk menanam tanaman kopi, tebu, the, pala, dll.
Kita akan melihat gamblang di kitab-kitab Syaikh Ahmad Rifa’I selalu menanamkan jiwa perlawanan terhadap kedzaliman Belanda tersebut. Misalnya kita bisa mengutip salah satu syair dalam kitab Syarikhul Iman, “mukmin bungkuk kekasab nandur ketela, iku luwih becik tinimbang bungkuk sebo ing won gala” (seorang mukmin yang bungkuk badannya sedang ia kerjaannya menanam ketela, secara martabat lebih mulia dibandingkan dengan orang bungkuk menghormat kepada orang durhaka)
Perlawanan-perlawanan KH. Ahmad Rifa’I dicaunter oleh pemerintah Hindia Belanda melalui pembunuhan karakter, melalui karya Hoax Serat Cebolek. Menurut Sejarawan NU Agus Sunyoto mengatakan bahwa Pemerintah Hindia Belanda membunuh karakter tokoh-tokoh pergerakan Islam dengan meyuruh orang pribumi untuk menuliskan satu serat yang sifatnya mengada-ada, yang isi serat itu hampir seluruhnya fitnah, dan kebohongan.
Tidak sebagaimana sejarah NU yang masih punya tali penghubung perjuangan dengan pesantren Tebuireng yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari yang juga pelopor Gerakan Nahdlotul Ulama. KH. Ahmad Rifa’I diasingkan dan pesantrennya dibubarkan, sehingga pada generasi murid pertama dan kedua mereka diaspora di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dibangunlah pesantren-pesantren sebagai pusat konsentrasi pergerakan yang tidak memusat di Pesantren Kalisalak lagi.
Kalau kita melihat tali hubungan diantara tiga tokoh KH. Ahmad RIfa’I, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, mereka terhubung pada KH. Kholil Bangkalan Madura. KH. Ahmad RIfa’I tercatat sebagai teman seperjuangan Kiai Kholil sejak di Kharamain. Sedangkan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hayim Asyari mereka berdua merupakan santrinya Mbah Kholil.
KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai wahana perjuangannya dalam berbagai macam bidang: Kesehatan, Pendidikan, Sosial, Keagamaan, ekonomi. Bahkan sampai sekarang sayap perjuangan itu terus melebar. Sedangkan NU juga berkhidmat dalam pendidikan, keagamaan, khususnya yang has dalam NU adalah Pondok Pesantren.
Ahsa