Jumat, 08 Oktober 2021

TEMBANG

 KAHIDAH 14


*TEMBANG*


تَنْبِيْهٌ تمْبَعْ جَوِ للَا كُونْ رَغَبَنْ    كِنَوَىْ عَعْكَةْ اِعْ عِلْمُ شَرَعْ كَلُوْهُوْرَنْ

عُرِيفْ اُرِيفْ اِعْ اَكَمَانَىْ نَبِىْ اُتُوْسَنْ    اِيْكُوْ دَادِىْ حَاصِلْ فَعَوَرُهِىْ كَجُوْكُوْفَانْ 

يَتَا مَنْفَعَةْ للَاكُونْ جَاوِىْ تمْبَاعْ     نُولُوْعِيْ اِعْ طَاعَةْ مَارِعْ الله كَوِيْلَاعْ


_”Perlu diketahui, bahwa tembang Jawa dianggap perlu untuk mengangkat martabat ilmu syariat”_


_”Melestarikan agama Nabi dan Rasul, sehingga cukup membawa hasil untuk memberi penerangan”_


_”Nyata bermanfaat tembang Jawa, termasuk sebagai instrumen penolong untuk taat kepada Allah”_ (Tanbih KH. Ahmad Rifa’i)


Tembang dalam Wikepedia diartikan sebagai kumpulan sajak/lirik yang berirama dan bernada. Kitab KH. Ahmad Rifa’I sebagian besar merupakan syair yang sangat indah apabila didendangkan layaknya tembang. Masyarakat Rifa’iyah sangat akrab dengan tradisi tembang, lagu. Dalam setiap jelang shalat berjamaah, mengawali majlis ta’lim di mushola dan masjid, biasa kita dengar lantunan syiiran, pujian, sebagai _pepiling_ bagi pendengarnya.  Lirik tembang bisa berupa nasihat, _pepiling_ memuji kepada Allah dan Rasulullah, juga bisa bermuatan ilmu.


Kata-kata nasihat baik _(mauidhah hasanah)_ yang disampaikan dengan cara yang buruk kecenderungannya akan ditolak, karena naluri manusia selalu menolak untuk digurui dan dinasehati secara langsung. Digurui dan dinasehati terasa berat, karena secara rasa orang yang dinasehati berposisi layaknya _kawula_ dihadapan penasihat  _gusti_. Maka tembang, lagu merupakan salah satu metode menasehati orang dengan cara _soft._ 


Tembang meresap ke dalam hati karena tidak menggurui. Ia terngiang dalam ingatan karena aura keindahannya. Syair, irama dan nada merupakan keindahan bunyi dan makna yang sering tanpa disadari meresap dalam lubuk hati manusia. Entah menggungah semangat atau justru membuat mata berlinang, setelah mendengarnya. 


Banyak orang tergugah hatinya selepas mendengar lagu. Banyak pula mereka bertaubat karena resapan alunan tembang yang menyadarkan. Tembang sebagai metode _tabligh_ tak lekan oleh panas zaman. Sejak zaman arab barbar hingga era digital _sumebar_ tembang merupakan metode penyampai yang dirasa paling ampuh meraih hati. Bahkan akhir-akhir ini tembang dinyatakan sebagai metode hafalan tanpa menghafal. Anda cukup sering melagukan bait nadzam _aqidatul awwam_ tanpa terasa anda tiba-tiba menghafal syair itu. Yang kita lakukan hanyalah nembang, tapi hadiahnya adalah hafal lirik, syiir, dan sajak.

 

Dulu Walisongo menitipkan pesan agama melalui tembang anak-anak. Misalnya intisari hadis Nabi tentang setiap manusia merupakan pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, yang pasti manusia akan mempertanggungjawabkan mengenai kepemimpinannya itu. Digubahlah tembang _”Gundul-gundul Pacul Gembelengan”_


_Gundul gundul pacul cul gelelengan_

_Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan_

_Wakul ngglimpang segane dadi sak rattan_

_Wakul ngglimpang segane dadi sak rattan_


Dalam tembang itu digambarkan bagaimana setiap manusia mempunyai “Wakul Tanggungjawab”. Tanggungjawab itu harus benar-benar ditunaikan dan dijaga. Kalau teledor tentu amanah wakul itu akan _glimpang_  sehingga tanggungjawab tidak hasil maksud, tapi malah tumpah ruah yang menikmati justru yang tidak berhak. Dalam lirik tembang itu disebut sebagai _”Wakul glimpang segane dadi sak latar.


Bagi saya tembang merupakan music. Karena music itu komposisi bunyi, irama, dan nada yang diaransir. Bahkan alam ini mustahil kalau tak musical.


Pekalongan, 8 September 2021

AHSA

Sabtu, 25 September 2021

DIKOTOMI ILMU = DISKRIMINASI ILMU

 *KAHIDAH 13*


*DIKOTOMI ILMU = DISKRIMINASI ILMU*


Dalam satu perbincangan seorang siswa santri bertanya kepada gurunya, perihal ilmu, 

_“Pak, apakah ilmu matematika tidak sampai ke akherat.”_ Guru itu spontan menjawab. 


_“saya tidak bisa memastikan hal itu, tapi faktanya besok kita semua tidak difikih atau diushul tetapi dihisab. Dihisab itu artinya apa?”_ serempak siswa yang ikut hadir dalam perbincangan santai itu menjawab, _“dihituuung!”_


_“Ilmu untuk menghitung itu ilmu apa?”_


_“Matematikaaaa”_ diiringi senyuman dari siswa yang berkerumun.

Mungkin ingin memperjelas, atau memperluas keterangan, diantara siswa menyusuli pertanyaan lagi.


_“Katanya matematika bukan ilmu agama Pak?”_


_“Lha terus ilmu apa?”_


_“Ilmu Umum!”_


_“Aneh”_


_“Kok aneh Pak?”_ beberapa wajah siswa terlihat mulai penasaran dengan kata aneh.


_“Iya. Karena yang saya tahu antonimnya umum itu khusus, bukan agama. Jadi kalau mau mendikotomikan ilmu yang benar adalah ilmu umum dan ilmu khusus.”_


_“Terus maksudnya ilmu khusus itu apa Pak?”_


_“Ilmu khusus itu seperti keRifaiyahan, keMuhammadiyahan, keNUan, sedangkan ilmu umum itu seperti matematika.”_


_“Maksudnya?”_


_“Kalau matematika, siapapun orangnya yang minat bisa mempelajari. Entah orang-orang di Jepang, Amerika, Indonesia, Jerman. Entah Muslim, Yahudi, Hindu, Buddha semua mempelajari matematika.”_


_“Sedangkan, KeRifa’iyahan, siapa yang mempelajari?”_


_“Khusus siswa keturunan warga Rifa’iyah.”_


_“Paham ya…”_


Serempak siswa menjawab, _“Pahaaaam.”_


_“Jadi jangan ikut-ikutan mendikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Sebatas yang saya tahu secara logika, hal itu salah. Dan efeknya kalian jadi malas mempelajari ilmu yang selama ini dikatakan sebagai ilmu umum, karena merasa tidak berguna di akherat.”_


_“Padahal amat jelas Allah menegaskan pentingnya ilmu matematika melalui ayat”_


اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ


_“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”_


*Kehidupan mustahil terjadi, apabila tanpa perhitungan.*


_“Kalau ilmu umum dikotominya dengan ilmu khusus, lantas ilmu agama didikotomikan dengan ilmu apa Pak?”_


_“Yang hampir seakan-akan benar menurut anggapanku. Ilmu agama pasangannya ilmu budaya. Karena agama kreasi Tuhan, sedangkan budaya kreasi manusia. Tetapi sesungguhnya, hakekatnya agama tidak bisa didikotomikan”_


_“lho kenapa Pak?”_


_“Iya. Agama itu kan seperti air. Ia ada di otak, perut dan seluruh jasmani kita, ia juga ada di tanah, di gunung, di laut, sungai, sumur, awan, dan dimana-mana. Sebagaimana agama, agama ada di olah raga, agama ada di music, kimia, fisika, biologi, budaya, masyarakat, dan dimana saja ada agama. Agama itu tidak hanya fiqih.”_


_“Kok bisa Pak?”_


_“Lha iya. Misalnya agama mengajarkan keadilan, dalam al-Qur’an difirmankan:”_


اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ

_“Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa”_


_“Saya Tanya, dalam olah raga mengajarkan keadilan tidak?”_ siswa ragu menjawab.


_“Oke. Adil dalam istilah olah raga disebut sebagai apa?”_


_“Sportiiif”_


_“Kalau dalam musik?”_


_“harmoni”_


_“Jadi bagaimana mungkin dalam musik tidak ada agama?”_

_“Terus kalau dalam olah raga Pak?”_


_“Baik. Saya Tanya, selama ini media yang bisa membakar semangat cinta tanah air, media apa?”_ siswa gak menjawab.


_“Bukankah semangat nasionalisme itu bergelora ketika kesebelasan Indonesia berlaga dengan kesebelasan Negara lawan?”_


_“Iya Pak. hubbul wathon minal iman”_ disambut koor Ya Lal Wathon. 

Selepas bersama menyanyikan _Ya Lal Wathon,_ ternyata pembicaraan mengenai dikotomi belum usai. Mereka masih mengejar dengan rentetan pertanyaan.


_“Pak, dasar ayat al-Qur’annya mempelajari ilmu biologi apa Pak?”_


اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ 


_“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?”_


_“Apakah kalian bisa mempelajari bagaimana penciptaan unta melalui ilmu Ushul, Fiqih dan Tasawuf? Bukankah itu semua dipelajari melalui ilmu biologi. Kalau orang menganggap remeh ilmu biologi berarti ia acuh terhadap firman tadi.”_


_“Kalau dasarnya al-Qur’annya anjuran mempelajari ilmu fisika Pak?”_


_“Surat al-Ghasyiyah ayat berikutnya sebagai dasar anjuran mempelajari fisika, astronomi, dll”_

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ 

_“Dan langit, bagaimana ditinggikan?”_


_“Berikutnya tentang pentingnya geografi.”_

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ 

_“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”_


وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ 

_“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”_


_“Pak, tapi kan, Mbah Rifa’I hanya menganjurkan tiga ilmu Ushul, Fiqih, Tasawuf Pak.”_


_“Siapa bilang. Wong dalam kitab Targhib jilid satu disebutkan”_


_ora nana derajat ilmu luwih luhur, tinimbang ilmu saking ilmu ma’rifat milahur_

_(tidak ada derajat ilmu lebih tinggi, dibandingkan dengan ilmu ma’rifat)_


“maksudnya ma’rifat kepada apa Pak?”


_“Mbah Rifa’i dalam kitab _Targhib_ mengatakakan bahwa manusia terlena karena tidak memperhatikan penciptaan dirinya. Kemudian Beliau mengutip ayat al-Qur’an.”_


_“Kita kutipkan persis kata-kata beliau”_


أَكَيهْ مَنُوْسَا فَدَا تِنمُوْ لَيْنَا اَوْرَا مَعْرِفَةْ اِعْكَعْ كَوَىْ بَدَنْ كَعْ اَنَا

اِيْكِيْ لَهْ قُرْاَنْ كَلَامُ اللهْ كَورُهَنَا وَفِىْ اَنْفُسِكُمْ اَفَلَا تُبْصِرُونَ

لَنْ اِعْدَلمْ اَوَاكِيْرَ كاَبَيْه كَدَدَيْهَنَىْ اَنَتَا اَوْرَا نِعَالِىْ كلَا كُوْهَانَىْ كَبَيهْ تِنَمُوْنَىْ


_“Kemudian pertanyaannya untuk mengetahui diri manusia, bukankah orang harus mempelajari biologi untuk mengetahui jasmaninya, psikologi mengetahui jiwanya, dan tasawuf untuk mengetahui perkembangan ruhaninya.”_


_“Dari alur logika pernyataan di kitab _Targhib_ yang bersandar pada Firman Tuhan, kita jadi menyaksikan bahwa Mbah Rifa’I mengajurkan mempelajari ilmu biologi, psikologi dan tasawuf. Bahkan dinyatakan ilmu ini sebagai ilmu yang berderajat tinggi.”_


_“berarti selama ini anggapan umum kita salah Pak?”_


_“monggo… salah atau tidak yang jelas ilmu itu dinamis. Tidak mandeg sebagai dogma yang diyakini kebenarannya tapi ternyata menyesatkan.”_


_“Yang jelas Mbah RIfa’I sering mengutip ayat berikut ini.”_ 


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا


_”Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”_


*ojo anut umbyung ing wong sasar bingung*


Pekalongan, 23 September 2021

AHSA

Sabtu, 07 Agustus 2021

SRAWUNG BEBRAYAN PD AMRI KOTA PEKALONGAN

 



Event berbagi "Srawung Bebrayan" Banyak mengandung hal-hal yang positif, salah satunya menumbuhkan rasa empatik berbagi yang sangat tinggi, baik dalam keadaan duka maupun suka. Karna di sini nilai kesederhanaan muncul. Yang kaya tidak akan merasa kaya, dan yang miskin pun tidak akan merasa miskin.
Kebiasaan suku suku di Indonesia adalah kebersamaan, berburu bahan makanan baik hewani maupun nabati dikumpulkan bersama dibakar bersama dan dimakan bersama pola ini yg membuat mereka tidak keracunan produk luar. Kamis 6 Agustus 2021, sebagian dari rekan-rekan AMRI melakukan aksi peduli di Poncol baru kota Pekalongan dan disambung dengan hangat oleh warga sekitar. Konsep yang ditawarkan adalah mempersilahkan mereka menyantap hidangan tanpa ada rasa malu-malu, bahkan dipersilahkan ikut serta memasak tanpa rasa sungkan. Tujuannya tak lain bisa membahagiakan mereka yang kesusahan, Terbitlah rasa guyup rukun saling gotong royong satu sama lain.
Meminjam istilah peribahasa "dari pada mengutuk kegelapan, mari nyalakan lilin sebagai penerang". Harapannya masyarakat mulai sadar dan aksi yang telah disulut oleh AMRI bisa berjalan dengan Istiqomah dan kebahagiaan menyertai kita semua.








Link Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=HEZJOmr9UFI&t=2s



IBADAH KUALITAS BUKAN HANYA KUANTITAS

IBADAH KUALITAS BUKAN HANYA KUANTITAS

oleh : Agus Syafa'at (PD AMRI Kota Pekalongan)

Ibadah berasal dari kata Abida-Ya'budu yang berarti mengabdi kepada Tuhan, dan ibadah secara epistomonologi adalah wujud pengabdian seorang hamba di dunia kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka dari itu titik berat ibadah terletak pada kepada siapa kita mengabdi dan tentunya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Allah SWT didalam Ayat Alqur'an juga menegaskan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

    Pada Tahun 1266H atau 1850M KH Ahmad Rifa'i sudah mengistilahkan lewat syairnya bahwa Sebaiknya pengabdian manusia kepada Tuhannya lebih mengedepankan kualitas dalam beribadah daripada kuantitas. 

 

Wong dagangan batine tikel-tikelan 
iku luwih banget akeh kahuntungan

Kaduwe wongkang luwih arta pawitan
mengkono uga wong ibadah kabeneran

luwih akeh untung ganjarane akhirat
kaduwe alim adil akeh ilmu munfaat

Iku sabab luwih akeh pawitan dihajat
akeh tikel ganjarane alim adil tho'at

Wong dagangan godong gawane berengkut
banget kedike batine kang dijuput

Luwih akeh wong tuku kemprubut
banget larise akeh wong asih lulut

Pira-pira anane dagangan akeh hina
kedig pawitane laris tinukunana

Batine luwe kedig kang disejakna
iku wicara bener arep kaweruhan

Ana juragan dagangane cilik akeh regan
yaiku emas,intan jumerut dagangan

Akeh batine sabab akeh ajine pawitan
ikulah sinejahakehe kahuntungan

Arep paham ing ngilmu syari'at dinadhar
sakuwasane gawe benere ikhtiyar

Ngista'na datenge syari'at digiyar
supaya dagangan tho'at akeh ginajar

Ikulah wang dagangan pawitan agung
dhohire kedik dagangane akeh untung

Tan katingal wang akeh rame rubung-rubung
ikulah ngilmu rega arep kinungsung

Tinemu satengah juragan kabingungan
ngalim fasik rinubung ngamal dagangan

Ati peteng tan weruh tunane pawitan
iku wang dagangan ngamal akhirat getunan

Kamis, 05 Agustus 2021

PEDULI KEBAHAGIAAN

PEDULI KEBAHAGIAAN

Oleh : Muhammad Nawa Syarif 

Sedari dulu, para ulama' didalam kegiatan keseharian tak pernah mendikotomikan antara ibadah individual dan sosial. Ketika malam tiba mereka bersujud, mentadabburi kalamNya, membasahi bibir dengan senantiasa menyebut namaNya.

Tatakala matahari memancar, para ulama' berangkat ke sawah, menanam padi, buah-buahan, serta memberi kegembiraan kepada mereka yang kesusahan. Bagi mereka Menegakkan aksi kemanusiaan merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan, dan berlipat-lipat pahala didapatkan.

Melihat keluhan masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 di Pekalongan khususnya, AMRI (Angkatan Muda Rifa'iyah) sebagai penerus perjuangan KH. Ahmad Rifa'i, wajib hukumnya ikut serta peduli melaksanakan aksi saling tolong menolong terhadap sesama.

Bagaimana tidak? Sedangkan KH. Ahmad Rifa'i menjelaskan dalam fatwanya.

Wajib wong kang nduwe Rizqi leluwihan

Iku Tulung banget ing wong leluwehan

(Wajib bagi mereka yang memiliki Rizqi lebih, menolong kepada mereka yang kelaparan).

Kamis 5 Agustus 2021, sebagian dari rekan-rekan AMRI melakukan aksi peduli di Poncol baru kota Pekalongan dan disambung dengan hangat oleh warga sekitar. Konsep yang ditawarkan adalah mempersilahkan mereka menyantap hidangan tanpa ada rasa malu-malu, bahkan dipersilahkan ikut serta memasak tanpa rasa sungkan. Tujuannya tak lain bisa membahagiakan mereka yang kesusahan, Terbitlah rasa guyup rukun saling gotong royong satu sama lain.

Meminjam istilah peribahasa "dari pada mengutuk kegelapan, mari nyalakan lilin sebagai penerang". Harapannya masyarakat mulai sadar dan aksi yang telah disulut oleh AMRI bisa berjalan dengan Istiqomah dan kebahagiaan menyertai kita semua.


Pekalongan, 05 Agustus 2021.










Selasa, 03 Agustus 2021

RESPON PERTANYAAN PERIHAL MAKAM DAN FOTO KH AHMAD RIFA'I

 *Merespon Pertanyaan Perihal Makam dan foto KH. Ahmad Rifa’i*


Dalam sebuah kajian memperingati hari pahlawan, 10 November 2018 di Jajarwayang Batang, ada satu pertanyaan dari audien, “dari mana asal usul foto KH. Ahmad Rifa’i?”  waktu itu saya menerangkan sederhana saja, foto itu berasal dari penelusuran team yang dibentuk oleh warga Rifa’iyah yang menjadi Panitia pameran stand Festival Istiqlal 1991, Festival Istiqlal 1991 di Jakarta. Jawaban saya disambut oleh pengakuan Mbah Qodnin Pasca Acara yang menyatakan kesaksiannya bahwa foto di dapat dari Arsip Nasional. Kemudian kami berusaha menelusuri sumber literasi dari beberapa dokumen milik KH. Ahmad Syadizirin Amin Pekalongan.


Berdasarkan keterangan yang saya temukan dalam catatan almarhum KH. Ahmad Syadzirin Amin diterangkan bahwa foto itu mulai ditemukan pasca pagelaran Festival Istiqlal 1991. Salah seorang pengunjung stand bazar Festival mengusulkan agar  foto KH. Ahmad Rifa’i di lacak di arsip nasional. Setelah ditemukan, berdasarkan keterangan almarhum Bapak Qodnin Jajarwayang Bojong Pekalongan bahwa foto itu kemudian dibawa ke Yogyakarta oleh alm KH. Ahmad Syadzirin yang mempunyai mitra pelukis disana. Hal ini sangat wajar, karena di tahun sebelumnya alm KH. Ahmad Syadzirin sempat menjadi ketua panitia “Seminar Nasional Mengungkap Pembaharuan Islam abad XIX, Gerakan KH. Ahmad Rifa’I Perubahan dan Kesinambungannya.” di Yogyakarta.


Foto KH. Ahmad Rifa’I penting untuk diungkap kembali mengingat ada informasi bahwa salah satu Jamaah di Cirebon menyatakan bahwa fotonya KH. Ahmad Rifa’I diklaim sebagai tokoh panutan mereka, dengan bukan mengatasnamakan sebagai KH. Ahmad Rifa’i. Menurut Agus Sulistyo sejarawan Pekalongan, menyatakan bahwa klaim jamaah tertentu kepada foto KH. Ahmad RIfa’I yang diakui sebagai tokoh panutan mereka. Klaim tersebut tidak bisa mengalahkan legalitas nasional bahwa foto itu sebagai foto salah satu pahlawan nasional yang bernama KH. Ahmad Rifa’i. Klaim jamaah tidak bisa mengalahkan otoritas dan legalitas nasional.


Saran dari penulis buku biografi Bhaurekso tersebut “alangkah lebih baiknya, sebagai generasi penerusnya KH. Ahmad RIfa’I segera menelusuri kembali data di arsip nasional. Untuk melacak kevalidan foto KH. Ahmad Rifa’I sebagai bukti manuskrip.” Atau menerjemahkan arsip-arsip yang sudah ada, diantaranya tersimpan di perpustakaan KH. Ahmad Syazdirin dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Barangkali dari sana bisa diambil keterangan tentang keberadaan foto dan banyak hal tentang KH. Ahmad Rifa’i. Demikian saran Beliau.


Untuk mengetahui makam KH. Ahmad Rifa’I, kita bisa melacak masa akhir perjalanan hidup KH. Ahmad Rifa’I. Merujuk kepada satu surat _(layang tanbih)_  yang pernah ditulis oleh KH. Ahmad Rifa’i ditujukan kepada anak menantunya K. Maufura di Keranggongan Limpung  Batang, maka ditemukan bukti bahwa KH. Ahmad Rifa’i sempat hidup di Ambon.


 


Kemudian kami temukan data menurut KH. Ahmad Syadizirin di  buku _“Gerakan Ahmad Rifa’I dalam Menentang Kolonial Belanda”_ bahwa diterangkan berdasarkan arsip Belanda:  _Jacquet 1880: 305/6_ menyatakan bahwa KH. Ahmad Rifa’I meninggal di rumah tahanan Batu Merah Ambon  Maluku dan dimakamkan disana. Cuma kemudian pemakaman itu sudah tidak ada karena tergusur oleh pembangunan kota. Hal ini dikuatkan oleh persaksian Ahmad Razi asal Kramatsari Pekalongan yang sempat bekerja disana menguatkan keterangan arsip tersebut. 


Korespondensi antara alm KH. Rahmatullah bin Muslani dengan Muhammad Syarif,  Pegawai Kemenag pusat yang menyempatkan menelusuri makam KH. Ahmad RIfa’i. Diterangkan bahwa Muhammad Syarif menelusuri makam KH. Ahmad Rifa’I sejak dari Ambon, disana tidak ditemukan makam KH. Ahmad Rifa’I. Yang beliau temukan adalah Makam keturunan Diponegoro yang bernama Ibu Onah. 


Muhammad Syarif melanjutkan perjalanannya ke Ternate (Maluku Utara), disana tidak ditemukan pula makam KH. Ahmad Rifa’i. Yang beliau temukan adalah makam raja-raja kesultanan ternate yang masuk agama Islam pada tahun 1500 an. Mereka adalah murid dari Sunan Giri.


Kemudian perjalanan berlanjut ke makam Imam Bonjol. Makam ini berada sekitar 8 kilometer dari kota Manado. Disana juga tidak ada makam KH. Ahmad Rifa’i.


Perjalanan dilanjutkan ke makam Kiai Mojo di kampung Jawa, Tondano Kabupaten Minahasa disana ditemukan makam KH. Ahmad Rifa’I berdekatan dengan makam K. Mojo dan makam KH. Zainuddin yang berasal dari kuningan yang diasingkan bersama rombongan Kiai Mojo.


Masalah: Kemudian dalam perjalanannya tentang makam KH. Ahmad Rifa’I banyak yang mempermasalahkan, bahkan menurut K. Makhfudz ada seseorang yang mengingkari bahwa makam atas nama KH. Ahmad Rifa’I di kampung Jawa Tondano Minahasa itu bukan KH. Ahmad Rifa’I dari Kendal atau Batang, tetapi makam itu merupakan makam K. RIfa’I pengikut Kiai Mojo yang berasal dari Demak.


Melihat kenyataan sejarah bahwa orang yang diasingkan oleh Belanda itu bukan sembarangan orang, tetapi yang dikhawatirkan menjadi pemimpin bagi banyak rakyat. Kemudian dikhawatirkan membuat gerakan laskar ala Diponegoro. Karena Belanda merasa trauma atas kebangkrutan ekonomi sejak perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Kalau satu orang saja bisa menjadikan Hindia Belanda bangkrut, bagaimana kalau gerakan perlawanan itu muncul dimana-mana?


Jadi menurut saya yang ditangkap oleh Belanda orang-orang tertentu (tokohnya saja) bukan dengan murid-muridnya untuk diasingkan. Mengingat beberapa gerakan perlawanan surut ketika tokohnya ditangkap. Berdasarkan logika ini, maka saya menganggap mustahil kalau makam itu adalah makam muridnya K. Mojo yang kebetulan bernaka K. Rifa’i.


Merujuk pada diskusi kami dengan Pak Agus Sulistyo, menerangkan bahwa klaim silsilah bentuk apapun tidak bisa membatalkan legalitas nasional yang berupa penghargaan terhadao KH. Ahmad RIfa’I sebagai pahlawan Nasional. Kecuali mereka benar-benar melakukan penelitian sejarah, social bidaya, dan antropologi. 


Dalam penelitian sejarah harus merujuk kepada data artifact yang Kampung Jawa Tondano ada dua berupa makam dan peti peniggalan KH. Ahmad Rifa’I yang sekarang di tangan istri dari Bapak Rebo pekuncen makam KH. Ahmad Rifa’i. Selain _artifact_ kita juga bisa melacak melalui _sosiofact_ atau fakta-fakta yang ditemukan secara kebiasaan social masyarakat marga Rifa’i. Apakah dari interaksi mereka kita menemukan fakta interaktif hasil ekspresif khas Mbah Rifa’i. Atau jenis interaksi dan ekpresi mereka yang dipengaruhi oleh ajaran KH. Ahmad RIfa’i. Kemudian juga bisa dibuktikan dengan _mentifact_ atau meneliti karakter manusia anak turun KH. Ahmad Rifa’I disana. Tentunya untuk membuktikan ini semua melalui jalan penelitian. 


Pembuktian lainnya lewat jalur pemeriksanaan DNA RNA di rumah sakit semacam Tlogorejo Klinik Forensik. DNA siapa yang diambil keturunan KH. Ahmad Rifa’I yang di menado dan keturunan di daerah di Jawa. Maka akan ditemukan apakan asam amino DNA RNA mereka ada kesamaan atau kedekatan?


Maka klaim silsilah tidak perlu dikhawatirkan. Ibarat  _“semua orang bisa mengarang, tetapi semua orang tidak bisa membuktikan.”_ Jalan pembuktiannya lewat penelitian sosio historis untuk mengungkap _artifact, sosiofact, dan mentifact._ Atau lewat jalur medis pembutian DNA RNA. 


Adapun jawaban perihal pengalaman intuitif seseorang yang kemudian menunjukkan bahwa makam Syaikh Genuk Semarang ternyata juga disebut makam KH. Ahmad Rifa’i. hal tersebut berdasarkan pengalaman ilmu intuisi seseseorang. Memahami hal ini,  pendekatannya dengan ilmu mistik Jawa. Bahwa seorang murid yang menempuh mengambil jalur maqom ilmunya Mbah Rifa’I, maka ia secara haqiqi masuk di maqom ilmu KH. Ahmad Rifa’i. 


Untuk memudahkan memahami konsep ini kita bisa upamakan HP. Mungkin HP dengan mesin Samsung bisa banyak serinya, modelnya, chasingnya. Tapi tetap orang akan menamakan itu sebagai Samsung. Sebagaimana Nur Muhammad bisa bersemayam di Jasad Ibrahim, Isa, Musa, Muhammad bin Abdullah juga di jasad Raden Mas Said, dst. Maka tidak heran kalau ada konsep pesantren bahwa Ilmu itu Cahaya. Bahwa cahaya ilmunya Mbah Rifa’I merasuk ke Syaikh Genuk, maka Syaikh Genuk akhirnya disebut juga sebagai Mbah Rifa’i. Yang paling rasional memakai nalar tersebut, saya menyimpulkan bahwa Syaikh Genuk itu salah satu murid KH. Ahmad RIfa’I yang ilmunya mencapai maqom ilmu Mbah RIfa’I _(Nur Rifa’i)_.


Mohon maaf atas ke Sok tahuannya. _Kemudian kita berserah diri Hanya kepada Allah. Karena Dia Yang Maha Tahu atas segala sesuatu._


Pekalongan, 4 Agustus 2021

Ahmad Saifullah



Minggu, 01 Agustus 2021

ESOK DELE SORE TEMPE

 *KAHIDAH 3*


_*Esuk Dele Sore Tempe*_

اَوْرَ تنْتُوْ وَوعْ سمْبَهْيَعْ اِيْكُوْ ودِيْ اِعْ فَعَيْرَانْ تِنمُوْ اَنَنَيْ وَوعْ صَلاَةْ كَوَيْ كدَيْ كَدُوْسَانْ

_∼tidak tentu orang shalat itu (berarti) takut kepada Tuhannya, kenyataannya (banyak) orang shalat (masih terus) berbuat dosa besar∼_

Dinamika itu artinya terus bergerak. Segala sesuatu yang memiliki sifat bergerak disebut dinamis.
Manusia itu makhluk paling tidak tentu, maka jangan sampai kita memasti-mastikan sesuatu yang berkaitan dengan manusia. Manusia itu makhluk dinamis yang berdasarkan adagium Jawa: _isuk délé soré témpé_ Bisa jadi manusia pagi hari mengajari haramnya memakai sesuatu, sore harinya ia justru mempraktekkannya. Bisa jadi malam harinya _tadarus_ QS. al-Hujurat, pagi harinya _ngrasani_ tetangga. Bisa jadi seseorang menerangkan bahayanya takabur dengan cara takabur. Dalam istilah yang lebih ekstrim ala Rasulullah Saw: _Pagi Mukmin Sore Kafir_. Bisa jadi tahun ini jadi Bos, tahun berikutnya terbalik jadi karyawan. Maka nasihat Jawa selalu meweling: _ojo dumeh_ karena hidup ini mengikuti _cokro manggilingan_ kadang di bawah kadang di atas.

Perubahan manusia tentu karena secara sunatullah penciptaan alam semesta terus menerus terjadi dalam setiap seperdetiknya. Dan manusia merupakan bagian dari alam. Ketidakpastinnya juga merupakan keniscayaan karena itu merupakan alasan pembeda dengan khaliqnya yang bersifatan _baqa_ (tetap). Manusia sebagaimana alam semesta yang pasti fana.

Sejatinya manusia itu tidak ada, karena sejatinya ia diadakan. Kita ada disini, tetapi bisa jadi beberapa detik lagi sudah pindah entah kemana. Saya sekarang bukan saya yang satu jam kemudian, karena berapa sel yang sudah ‘mati’ dan digantikan dengan sel yang baru. Yang benar-benar ada Cuma Allah. Kalau mengutip istilah Mbah Rifa’i dunia sebagai _wenang owah-owah_ terus dipergilirkan siang malam, mati dan hidup.

Walaupun semua makhluk secara kejadian berpotensi _owah-owah_, tetapi dalam menjalani hidup dan tugasnya makhluk selain manusia mempunyai kepastian-kepastiannya. Diantaranya Iblis mempunyai kepastian ingkar kepada Tuhannya. Ia juga mempunyai kepastian tugas menyesatkan manusia sampai hari kiamat. Malaikat mempunyai kepastian _la ya’shunallaaha maa amarahum, wayaf’aluunaa maa yu’maruun_ (tidak mendurhakai perintah Allah, dan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah). Hewan sudah pasti taat karena mereka langsung dalam ‘remotan hukum’ Allah. Kambing sangat taat pada kekambingannya, dengan makan dedaunan tertentu, tak mungkin kambing kepingin daging apalagi _pindang tetel_. Tapi seringkali manusia tidak taat kepada fitrahnya sebagai manusia. Ia selalu ingkar dengan _ngejlokke_ derajatnya sampai ke level binatang ternak, bahkan lebih hina. Ia menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

_“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”_ (Al-Furqaan: 43).

Matahari sangat pasti taat karena ia terbit tak pernah terlambat, begitu pula ketika terbenam. Lebah begitu taat kepada Tuhannya menjalani tugas tiap pagi menyerbuki ribuan bunga hingga terjadi buah-buahan yang menjadi bahan makanan manusia. Alam semesta begitu sami’na waatha’nanya kepada Allah. Sedangkan manusia tak tentu. Kadang didepan kelihatannya taat, tapi dibelakang _mblunat_. Pepatah _srigala berbulu domba_ hanya bisa diperlakukan kepada manusia. Karena di dalam al-Qur’an yang disifati _munafiq_ hanya manusia, tidak jin, iblis, hewan, setan, dst. Jadi betapa susahnya sebenarnya menghadapi manusia, karena ia makhluk yang serba kemungkinan dan serba tidak bisa dipastikan.

Hewan bermasalah itu kalau lapar. Setelah dikasih makan, ia tenang bisa dengan cara tidur. Tetapi manusia ketika lapar, dikasih makan muncul masalah lagi tentang kurang enak makannya, kalau dikasih enak, kurang banyak. Setelah makan enak-banyak _keturutan_ masih bermasalah juga, cari suasana, tempat yang ‘pas’ dengan selera makan. Jadi manusia itu ‘lingkaran setan masalah’ yang tak berkesudahan, maka ia disebut sebagai makhluk dinamis. Ada orang yang mengatakan masalah manusia itu selesai setelah _mbujur ngalor-ngidul_, ternyata juga belum karena ia masih berhadapan dengan malaikat Munkar Nangkir.

Salah seorang paman saya bertanya, apakah di kalangan warga Rifa’iyah video dan gambar sudah dibahsul masailkan dalam musyawarah secara hukum? Dulu sering diharam-haramkan, kok tiba-tiba sekarang para kiai sangat akrab dengan video dan gambar? Itulah salah satu gambaran dinamika hukum yang berkaitan dengan manusia. Tidak bisa tidak hukum harus dinamis, karena ia menghukumi manusia. Maka selalu akan terbayang pertanyaan dalam benak kita “apakah hukum yang menyesuaikan perilaku manusia, atau manusia harus menyesuikan hukum?”

Yang nyata terjadi sekarang adalah hukum yang adaptif dalam setiap perkembangan dinamika manusia.

Manusia berbuat dan mengambil keputusan bukan atas dasar nilai hukum semata. Kebanyakan manusia bertindak juga berdasarkan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kemudahan komunikasi yang melibatkan berbagai macam media dan aplikasi komunikasi. Sehingga apa yang enak, mudah, instan yang ditempuh manusia sekarang. Sehingga jangan kaget kalau yang dulu diantipatikan sekarang justru menjadi hiasan hidup sehari-hari. Sehingga respon ijtihad hukum tidak bisa tidak menyesuikan perilaku manusia.

Apakah itu yang sedang berlangsung disebut sebagai evolusi hukum, sebagaimana Syaikhul Akbar Muhyidin Ibnu Arabi (w. 638H/1240M) menengarai, pada awalnya hukum itu mengikuti kehendak Allah.

اختلفت الشرائع لإختلاف النسب الإلهية

_“perbedaan hukum mengikuti perbedaan kehendak Allah”_

Kemudian hukum berkembang menjadi:

إختلفت النسب لإختلاف الأحول

_”perbedaan kehendak hukum menyesuaikan perilaku (manusia)”_

إختلفت الأحوال لإختلاف الأزمان

_“Perbedaan perilaku (manusia) dipengaruhi keadaan zaman”_

إختلفت الأزمان لإختلاف الحركات

_”Perbedaan zaman terjadi karena perbedaan gerak”_

إختلفت الحركات لإختلاف التوجهات

_”Perbedaan gerak menyesuaikan bentuk”_

إختلفت التوجهات لإختلاف المقاصد

_”Perbedaan bentuk mengikuti tujuan-tujuannya”_

Bagaimanapun sekarang masyarakat *membentuk* dirinya itu tergantung pada *tujuannya*. Ketika masyarkat tidak bisa dilepaskan dari media social, maka tidak bisa tidak ia akan mengikuti algoritma medsos yang tujuan utamanya popularitas (dengan mengumpulkan like, subscribe, member, dengan cara share, shelfie dan narsis) karena dengan banyaknya subscribe, like, dan banyaknya ditonton tentu akan semakin menambah banyak penghasilan uang pemilik channel dan accountnya. Maka sekarang sangat lazim orang-orang di medsosnya bertingkah ‘gila’ demi mendapatkan penonton yang banyak. Bahkan sampai pada peremehan perintah Tuhan. Shalat dibuat lelucon-lelucon, yang penting menarik untuk ditonton.

Apakah kita tidak riskan dengan pernyataan firman Allah

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ

_“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”_

Atau dalam bahasa lain, apakah kita diciptakan Tuhan dengan maksud mencari ketenaran diri, dan pemuasan nafsu dan ambisi? Masih ingatkah janji kita

….أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

_"Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab: "Betul, kami bersaksi"._

Pekalongan, 29 Mei 2021
ahsa